PURA RAMBUT PETUNG

Pura Rambut Petung terletak di Desa Pakraman Pesedahan, Kecamatan Manggis, Karangasem dipercaya sebagai pura Kahyangan Jagat stana Batara/Dewa Sangkara. di kalangan krama penyungsung setempat dimanifestasikan Batara Gede Lingsir Rambut Petung

keberadaan pura sudah diketahui sejak Tahun 102, seperti yang terdapat pada dari prasasti dan teks yang diterjemahkan dari Leiden, Belanda baru diperoleh 1985.

Dulu Raja Bali yang berpusat di Gelgel, Klungkung ketika masa pemerintahan Ida Dalem Pasuruan, mengutus I Gusti Ngurah Tenganan serta empat pengiring dan pasukannya menjaga dan mapekeling (mengingatkan) kepada raja dan menggelar upacara di pura yang berlokasi di pebumian Pesedahan. Mereka kini dipercaya sebagai leluhur krama Pesedahan. Pura ini berlokasi di kaki Bukit Dulun Petung.

Disebutkan, setelah Dukuh De Mangku kalah perang dalam peperangan yang berkecamuk sekitar enam bulan, I Gusti Ngurah Tenganan menemukan tiga KK krama yang masih ada. Dengan jumlah krama yang terbatas, dirasakan tak cukup membentuk desa pakraman. Lantas dimohonkan krama kepada Raja Karangasem dan mereka ditempatkan di mel kelod (di selatan pusat desa) yang kini diperkirakan Banjar Karanganyar. Mereka itu diperkirakan berasal dari Subagan, Seraya, Perasi dan Macang.

Sampai kini, diketahui dua kali upacara besar yakni 100 tahun lalu dan karya ngenteg linggih, nubung padagingan Tahun 2005.

Karya tahun 2005 itu disaksikan keturunan raja atau keluarga Puri Karangasem seperti AAB Ngurah Agung serta Cokorda Klungkung. Itu upacara yang berdasarkan petunjuk dari lontar yang ada. Sementara pujawali rutin tiap enam bulan saat Umanis Galungan.

Pamangku di pura ini yakni Mangku Gede Nengah Sujati dan Mangku Ayu Nengah Supadmi, dibantu paguyuban pemangku di Pesedahan sebanyak 32 orang, terdiri atas para pemangku kahyangan desa, pemaksan dan dadia.

Bangunan yang ada di Pura

1. Meru Tumpang Siya (sembilan)

2. Pelinggih Gaduh (terletak di kanan dan kiri Meru),

3. tiga buah Padmasana, dua menghadap ke selatan dan satu ke barat.

4. Gedong Sari,

5. Pelinggih putra-putri (Pelinggih Batara Ayu, Batara Segara, Batara Majapahit. 6. Pelinggih Batara dari Sengkidu dan Mendira ketika tangkil ke AJINE di Pura Ramput Petung.

Mohon Kesejahteraan

Sejumlah tokoh pernah tangkil dan mendapat panugerahan atau paica. Pamedek dari Lombok juga pernah ngaturang pakemit di pura ini. Selain itu, masyarakat Pesedahan dan sekitarnya mempercayai mohon perlindungan dan kesejahteraan akan terkabul. Ini terbukti, saat wabah flu burung atau gerubug ayam di daerah lain dan luar Bali, pengusaha peternakan ayam ras di Pesedahan tak sampai rugi besar. Bahkan bisa dibilang terhindar dari kematian massal akibat wabah.

Saat puwajali, pamedek berdatangan dari luar desa seperti Selumbung, Padangkerta, Perasi dan Subagan Amlapura.

Saat itu areal parkir tak memadai. Kini pangempon pura setempat merencanakan memugar panyengker keliling 225 meter dengan rencana anggaran sekitar Rp 500 juta.

Kahyangan Jagat

Pura ini oleh prajuru setempat diyakini sebagi kahyangan jagat. Hal itu termuat dalam Lontar Mpu Kuturan dan Lontar Padma Buana. Dalam Lontar Mpu Kuturan disebutkan dengan terjemahan (dikutip dari Proposal Pembangunan Penyengker Pura Kahyangan Jagat Rambut Petung Desa Pakraman Pesedahan).

Di sana juga dijelaskan, tata cara melakukan persembahyangan bagi sang tri wangsa utama, brahmana, ksatria ratu yang boleh disembahnya Batara di sad kahyangan yang dibangun oleh brahmana dahulu, ksatria ratu beserta para menteri, wesya, sudra, yaitu Batara Giri Jagatnata, Batara Siwa Raditya, Batara Brahma, Wisnu, Iswara, stana Batara Siwa, Sadha Siwa, Parama Siwa dan Rambut Basukih, Erjeruk, Uluwatu, Watukaru, Pakendungan, Gowa Lawah, Rambut Petung, Tampakhyang, Sakenan, Panataran, itu sama-sama boleh disembah olehnya di samping juga menyembah leluhur yang sudah memasuki alam dewata dari sejak dulu, keturunan dari Batara Dwijendra, yang demikian itu tidaklah menyebabkan dosa baginya.

Sementara dalam Lontar Padma Buana disebutkan dengan terjemahan, keterangannya, sad winayaka (kelompok enam dewa) dinamai sad kahyangan sthana batara berbentuk padma di bumi, di Pulau Bali disungsung oleh Sang Bhuta Berdua. Selanjutnya tempat Batara Berdua menetap, inti padma di bumi bagaikan dasarnya alam, maka didirikan empat pura, maka itu genaplah sad kahyangan di Pulau Bali, juga berasal dari perhitungan Panca Brahma dalam batin sebagai berikut.

Sang yaitu sadya, aksobhya, Iswara jugalah dia arahnya di timur, letaknya di Pura Gunung Tampakhyang. Bang atau bhamadewa, ratnasambhawa, Brahma jugalah dia arahnya di selatan, letak puranya di Gunung Andakasa. Tang yaitu tat purusa, amittaba, Mahadewa juga dia arahnya di barat, letak puranya di Gunung Watukaru. Ang yaitu aghosa, amoghasidi, Wisnu jugalah dia, arahnya di utara letak puranya di Pura Gunung Pagadungan Tungtung.

Ing yaitu Isana, Siwa Wairocana letak puranya di tengah menjadi Batara Pratiwi bagaikan dasar berstana di Dalem Puri lalu dibuatkan pura sebagai sudut-menyudut berasal dari perhitungan pancaaksara yaitu. Nang, Maheswara terletak di tenggara berstana di Gowa Lawah. Mang, Ludra terletak di barat daya berstana di Pejeng. Sing, Sangkara di barat laut letaknya di Rambut Petung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar